« Lama Home
Loading Baru »

Ritual Bulan Suci

 Foto: Tahrir/Kaltim Post

(reposting…)

RAMADAN tiba. Bulan di mana segala berkah dilimpahkan bersama pintu-pintu surga yang dibuka, pahala dilipatgandakan, kebaikan-kebaikan tercurah dan kejahatan dihalang-halangi. Inilah bulan di mana malaikat-malaikat berdatangan lebih banyak, mendekat di sekeliling kita, mengamini setiap munajat dan doa, menjaminkan ijabah bagi segala nazar dan asa.

Di saat komuni setan-iblis tak berdaya karena terbelenggu dalam kerangkeng, lantas absen mengganggu hidup manusia, bisakah kita berderap tegap pada jalan yang benar, setidaknya untuk sebulan ini saja? Wallahu’alam. Jangan-jangan masih saja ada bibit kejahatan yang tersisa, dan itu ternyata bukan disebabkan oleh godaan setan-iblis, melainkan justru datang dari bakat “kesetaniblisan” diri kita sendiri.

Sebuah berita mengundang tawa. Dalam tayangan kriminal televisi swasta, seorang tersangka pembunuhan membela diri di hadapan polisi. Dia bilang, pembunuhan itu memang benar terjadi. Tetapi spontan dan di luar kendali kesadaran. “Saya seperti kerasukan iblis.”

Berita lain tak kalah uniknya. Seorang tersangka pencabulan anak di bawah umur, menyebut perbuatannya itu dia lakukan karena godaan si setan laknat bin terkutuk. “Saya khilaf. Terlalu mudah mengikuti rayuan setan.” Duh, andai saja bisa diberi hak jawab, mungkin si setan akan berkata dengan lantang; “kamu yang cabul kok aku yang disalahkan.”

Sekarang Ramadan. Meski ada jaminan setan-iblis dibelenggu, kriminal tetap merajalela. Kejahatan masih saja terjadi. Televisi dan koran-koran seperti tak kehabisan bahan menayangkan berita jenis ini. Tentu saja juga korupsi, kebohongan-kebohongan, kemunafikan dan tipu-daya.

Bisa jadi memang ada setan-iblis yang “lolos” saat “razia” menjelang Ramadan, entah sembunyi ketika mau dimasukkan kerangkeng atau melarikan diri setelahnya. Tetapi kemungkinan terbesarnya adalah ini; manusia diberi hati dan pikiran, di mana menjadi baik atau buruk adalah pilihan. Tak peduli bulan apa pun juga, sebab iblis dan setan sebenarnya provokator saja.

***

Di saat pelajaran paling berharga dalam ibadah puasa adalah menahan hawa nafsu, kita justru disuguhi pemandangan sebaliknya; dibandingkan hari biasa, Ramadan mengundang lebih banyak orang memadati pasar, mal dan plaza, berbelanja macam-macam kebutuhan, memborong bertroli-troli barang dan menghabiskan bergepok uang. Haruskah, untuk urusan semacam ini, kita lagi-lagi menyalahkan setan?

Peradaban membuat manusia menjadi semakin konsumtif. Ukuran kekhusyukan ibadah puasa bukan lagi pada seberapa seseorang bersikap prihatin dan meresapi makna lapar-dahaga, sebagai bentuk solidaritas atas betapa banyak orang di tempat lain harus berpuasa sepanjang tahun karena dibelit kemiskinan, tetapi malah pada kualitas menu sahur dan varian makanan di waktu berbuka.

Itu lantas membuat puasa menjadi semacam wisata kuliner dalam bentuknya yang lain. Perubahan siklus makan harian dari pagi-siang-malam menjadi dini hari dan petang. Kualitas makanan harus ditingkatkan sebab kuantitasnya berkurang. Dan itu berarti tambahan anggaran belanja rumah tangga, karena di saat berbuka harus ada dua-tiga jenis kudapan, sepoci teh hangat, segelas es campur, dawet atau kopyor, juga sekeranjang buah-buahan – sesuatu yang pada hari-hari biasa kerap tak terlalu dirisaukan.

Repotnya, di tengah konsumsi dan belanja yang meningkat berlipat-lipat itu, produktivitas justru menurun. Jam kerja pegawai negeri dikurangi, dengan alasan butuh waktu untuk menyiapkan saat berbuka puasa, seperti halnya perlu bangun lebih telat karena sahur dan salat subuh telah memotong jatah istirahat. Hidup seolah berubah. Banyak orang menjadi manja – tentu untuk menghindar menyebutnya menjadi malas.

Masjid-masjid penuh orang tidur selepas zuhur. Bangun ketika azan asar mengumandang, salat berjamaah, lantas tidur lagi sampai menjelang berbuka. Meski tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, ada pahala yang lebih besar lagi, tentu saja, bagi orang-orang yang tetap beraktivitas memakmurkan bumi di tengah shaum-nya yang suci.

Gang-gang permukiman dipadati cengkerama bocah-bocah bermain petasan. Remaja-remaja sibuk dengan permainan kekanak hingga menjelang tengah malam. Maklum besok jam masuk sekolah ditoleransi molor hingga satu jam. Pemuda-pemuda nongkrong main kartu sambil menunggu sahur. Sebagian yang lain menunggang motor kebut-kebutan di jalanan.

***

Ramadan, pada akhirnya, juga menjustifikasi sebuah kebijakan aneh pemerintah kita. Inilah saat di mana tempat-tempat hiburan malam harus berhenti beroperasi. Tutup pintu bagi tamu atas nama apa yang disebut sebagai “menghormati orang yang melaksanakan ibadah puasa”. Tempat-tempat itu dicap sebagai tak layak, berbau maksiat dan harus dihentikan untuk sementara. Nanti, setelah Ramadan lewat dan para pendoa berharap kembali menjadi fitrah sesuci bayi, bau maksiat ini dipersilakan ditebar lagi.

Lalu di mana logikanya? Bukankah maksiat tetap saja maksiat, entah Ramadan atau bukan! Betapa lucunya pemerintah kita membuat kebijakan izin beroperasi bagi hiburan malam di 11 bulan dalam setahun dan menutupnya satu bulan selama Ramadan. Apakah karena 11 bulan yang lain itu bukan bulan suci, lantas tempat maksiat dipersilakan beroperasi?

Padahal, kalau dipikir-pikir, justru di saat Ramadan inilah seharusnya tempat hiburan malam, yang disebut berbau maksiat itu, dibiarkan buka. Kalau perlu malah dibuka selebar-lebarnya. Sekadar untuk memastikan bahwa apabila ada manusia yang dugem ke sana, mereka datang bukan karena godaan iblis atau setan. Mereka datang atas kemauan pribadi dan godaan diri sendiri. Sebab iblis dan setan kan sedang terbelenggu dalam kerangkeng hehehe.

Yang jadi soal bukanlah kebijakan menutup tempat hiburan malam di saat Ramadan. Tetapi kebijakan membiarkannya buka di saat bukan Ramadan. Kalau tempat-tempat itu diyakini berbau maksiat, apa pemerintah memang hanya ingin menyelamatkan warganya dari perbuatan dosa di saat Ramadan saja? Lantas membiarkan maksiat merajalela di 11 bulan berikutnya? Memangnya, larangan berbuat maksiat hanya ketika Ramadan, sehingga selepas bulan suci, hawa nafsu boleh diumbar lagi?

Sikap manusia memang kerap unik. Selama puasa, dalam perbincangan sehari-hari, sering kita dengar ungkapan, misalnya, “nggak boleh bohong ya, lagi puasa kan?”. Atau sebuah iklan televisi di mana seorang anak kecil berkata pada ibunya; “Mama, orang puasa kan harus sabar ya, Ma.” Padahal, puasa atau tidak puasa, kita tetap saja tak boleh bohong. Puasa atau tidak puasa, kita ya mesti sabar.

***

Ramadan berulang setiap tahun bersama macam-macam keunikan. Orang-orang mendadak gemar makan wadai (kue/kudapan) dan pasar wadai pun bertebaran di setiap sudut kota. Masjid-masjid dan musala tiba-tiba penuh dengan jamaah meskipun biasanya hanya di awal-awal dan dijamin terus berkurang menjelang lebaran. Anak-anak yatim kebanjiran hadiah dan panti-panti asuhan kewalahan menerima order acara buka puasa bersama. Ustaz-ustaz sibuk memenuhi undangan mengisi kultum di kampung-kampung.

Para politikus menggelar acara di sekretariat partai, berbagi takjil dan makanan buka puasa sembari menitip pesan-pesan politik. Pejabat-pejabat roadshow safari Ramadan hingga ke pelosok-pelosok dengan senyum dibuat-buat seolah bebas masalah dan ahli ibadah. Para saudagar kaya bikin acara buka puasa di ballroom hotel yang suasananya lebih mirip pesta makan malam bertitel gala dinner.

Tempat-tempat belanja menabur diskon gede-gedean. Jauh sebelum Lebaran, iming-iming harga murah membuat banyak yang ngiler lantas mengutang dengan harapan dua pekan ke depan bisa dibayar dengan jatah THR. Kampanye produk menghubungkan semua promosi dengan keajaiban puasa; iklan-iklan televisi, reklame-reklame di jalan raya dan brosur-brosur penganjur hedonisme yang tercecer di depan rumah-rumah kita.

Ramadan akhirnya disambut bukan saja sebagai bulan penuh magfirah, tetapi juga ritual yang tak melulu berhubungan dengan religi; ada kepentingan politik, juga bisnis, yang bagi banyak pihak justru semakin membuktikan bahwa sang holy month memang benar-benar penuh berkah.

Selamat menikmati indahnya puasa. Selamat berjuang menuju fitrah. Maaf lahir batin. ***

Transeksual menjadi isu penting di Thailand. Jumlah orang dengan problem identitas kelamin terus meningkat. Inilah bangsa di mana kaum waria mendapat tempat istimewa, sampai-sampai ajang Miss Tiffany Universe (Ratu Waria Sejagat) digelar rutin setiap tahun di Negeri Gajah Putih.

SELALU ada nasihat agar berhati-hati bila melihat wanita cantik di Bangkok atau Pattaya. Sebab kita bisa tertipu, yang cantik itu ternyata wanita palsu. Di Thailand, waria memang ada di mana-mana, rata-rata cantik dan bertubuh aduhai; putih bersih, langsing, bergaya kemayu dan suaranya menyerupai wanita sungguhan. baca selengkapnya… ‘Ramai Operasi Kelamin, Ada Toilet Khusus Waria’

Thailand menawarkan rupa-rupa wisata. Dari yang religius seperti ziarah pemeluk Buddha ke kuil-kuil tua di kawasan Chao Pharaya, sampai gempita hiburan malam di sudut-sudut remang kota Pattaya. Atraksi binatang pasti mengasyikkan untuk keluarga. Bagaimana dengan show manusia, yang suguhannya sungguh tak biasa?

SABTU pagi yang cerah di Bangkok. Setelah tidur nyenyak di ketinggian lantai 46 Hotel Baiyoke Sky, kemudian sarapan pagi di lantai 78, saya bersama dua rekan, Ogi Fajar Nuzuli dan Fitri Zamzam langsung meluncur ke kawasan Grand Palace, istana besar Raja Thailand yang melegenda.

Tetapi mengingat waktu tak cukup leluasa karena harus segera menuju Pattaya, kami hanya melihat-lihat dari luar pagar istana, lalu menyeberang ke Wat Pho, kuil tua tempat patung Buddha raksasa yang lokasinya persis berseberangan dengan istana raja. The Temple of the Reclining Buddha ini juga biasa disebut Sleeping Buddha, karena posisi Buddha yang berbaring dengan tangan menyangga kepala. baca selengkapnya… ‘Gajah Berpakaian, Cewek Telanjang’


Sedang Baca...

Galeri Foto

www.flickr.com
This is a Flickr badge showing photos in a set called Alam & Manusia. Make your own badge here.


Berbagi Video

PETA: File Revolusi 1945-1950